Showing posts with label Islam. Show all posts
Showing posts with label Islam. Show all posts

Sunday, September 10, 2017

Abu Nawas: Cara Merayu Tuhan

Tak selamanya Abu Nawas bersikap konyol. Kadang-kadang timbul kedalaman hatinya yang merupakan bukti kesufian dirinya. Bila sedang dalam kesempatan mengajar, ia akan memberikan jawaban-jawaban yang berbobot sekalipun ia tetap menyampaikannya dengan ringan.

Seorang murid Abu Nawas ada yang sering mengajukan macam-macam pertanyaan. Tak jarang ia juga mengomentari ucapan-ucapan Abu Nawas jika sedang memperbincangkan sesuatu. Ini terjadi saat Abu Nawas menerima tiga orang tamu yang mengajukan beberapa pertanyaan kepada Abu Nawas.

“Manakah yang lebih utama, orang yang mengerjakan dosa-dosa besar atau orang yang mengerjakan dosa-dosa kecil?” ujar orang yang pertama.
Abu Nawas: Cara Merayu Tuhan
Abu Nawas: Cara Merayu Tuhan

“Orang yang mengerjakan dosa kecil,” jawab Abu Nawas.

“Mengapa begitu,” kata orang pertama mengejar.

“Sebab dosa kecil lebih mudah diampuni oleh Allah,” ujar Abu Nawas. Orang pertama itupun manggut-manggut sangat puas dengan jawaban Abu Nawas.

Giliran orang kedua maju. Ia ternyata mengajukan pertanyaan yang sama, “Manakah yang lebih utama, orang yang mengerjakan dosa-dosa besar atau orang yang mengerjakan dosa-dosa kecil?” tanyanya.

“Yang utama adalah orang yang tidak mengerjakan keduanya,” ujar Abu Nawas.

“Mengapa demikian?” tanya orang kedua lagi.

“Dengan tidak mengerjakan keduanya, tentu pengampunan Allah sudah tidak diperlukan lagi,” ujar Abu Nawas santai. Orang kedua itupun manggut-manggut menerima jawaban Abu Nawas dalam hatinya.

Orang ketiga pun maju, pertanyaannya pun juga seratus persen sama. “Manakah yang lebin utama, orang yang mengerjakan dosa-dosa besar atau orang yang mengerjakan dosa-dosa kecil?” tanyanya.

“Orang yang mengerjakan dosa besar lebih utama,” ujar Abu Nawas.

“Mengapa bisa begitu?” tanya orang ktiga itu lagi.

“Sebab pengampunan Allah kepada hamba-Nya sebanding dengan besarnya dosa hamba-Nya,” ujar Abu Nawas kalem. Orang ketiga itupun merasa puas argumen tersebut. Ketiga orang itupun lalu beranjak pergi.

Doa Abu Nawas Merayu Tuhan

Si murid yang suka bertanya kontan berujar mendengar kejadian itu. “Mengapa pertanyaan yang sama bisa menghasilkan tiga jawaban yang berbeda,” katanya tidak mengerti.

Abu Nawas tersenyum. “Manusia itu terbagi atas tiga tingkatan, tingkatan mata, tingkatan otak dan tingkatan hati,” jawab Abu Nawas.

“Apakah tingkatan mata itu?” tanya si murid.

“Seorang anak kecil yang melihat bintang di langit, ia akan menyebut bintang itu kecil karena itulah yang tampak dimatanya,” jawab Abu Nawas memberi perumpamaan.

“Lalu apakah tingkatan otak itu?” tanya si murid lagi.

“Orang pandai yang melihat bintang di langit, ia akan mengatakan bahwa bintang itu besar karena ia memiliki pengetahuan,” jawab Abu Nawas.

“Dan apakah tingkatan hati itu?” Tanya si murid lagi.

Syair Abu Nawas Lengkap

“Orang pandai dan paham yang melihat bintang di langit, ia akan tetap mengatakan bahwa bintang itu kecil sekalipun ia tahu yang sebenarnya bintang itu besar, sebab baginya tak ada satupun di dunia ini yang lebih besar dari Allah SWT,” jawab Abu Nawas sambil tersenyum.

Si murid pun mafhum. Ia lalu mengerti mengapa satu pertanyaan bisa mendatangkan jawaban yang berbeda-beda. Tapi si murid itu bertanya lagi.

“Wahai guruku, mungkinkah manusia itu menipu Tuhan?” tanyanya.

“Mungkin,” jawab Abu Nawas santai menerima pertanyaan aneh itu.

“Bagaimana caranya?” tanya si murid lagi.

“Manusia bisa menipu Tuhan dengan merayu-Nya melalui pujian dan doa,” ujar Abu Nawas.

“Kalau begitu, ajarilah aku doa itu, wahai guru,” ujar si murid antusias.

“Doa itu adalah, “Ialahi lastu lil firdausi ahla, Wala Aqwa alannaril Jahimi, fahabli taubatan waghfir dzunubi, fa innaka ghafiruz dzambil adzimi.” (Wahai Tuhanku, aku tidak pantas menjadi penghuni surga, tapi aku tidak kuat menahan panasnya api neraka. Sebab itulah terimalah tobatku dan ampunilah segala dosa-dosaku, sesungguhnya Kau lah Dzat yang mengampuni dosa-dosa besar).

Banyak orang yang mengamalkan doa yang merayu Tuhan ini.

Abu Nawas: Memindah Istana Ke Puncak Gunung

Baginda Raja baru saja membaca kitab tentang kehebatan Raja Sulaiman yang mampu memerintahkan, para jin memindahkan singgasana Ratu Bilqis di dekat istananya. Baginda tiba-tiba merasa tertarik. Hatinya mulai tergelitik untuk melakukan hal yang sama. Mendadak beliau ingin istananya dipindahkan ke atas gunung agar bisa lebih leluasa menikmati pemandangan di sekitar. Dan bukankah hal itu tidak mustahil bisa dilakukan karena ada Abu Nawas yang amat cerdik di negerinya.

Tanpa membuang waktu Abu Nawas segera dipanggil untuk menghadap Baginda Raja Harun AI Rasyid.

Setelah Abu Nawas dihadapkan, Baginda bersabda, “Abu Nawas engkau harus memindahkan istanaku ke atas , gunung agar aku lebih leluasa melihat negeriku?” tanya Baginda sambil melirik reaksi Abu Nawas. Abu Nawas tidak langsung menjawab. la berpikir sejenak hingga keningnya berkerut. Tidak mungkin menolak perintah Baginda kecuali kalau memang ingin dihukum. Akhirnya Abu Nawas terpaksa menyanggupi proyek raksasa itu.

Abu Nawas: Memindah Istana Ke Puncak Gunung
Abu Nawas: Memindah Istana Ke Puncak Gunung

Ada satu lagi,permintaan dari Baginda, pekerjaan itu harus selesai hanya dalam waktu sebulan. Abu Nawas pulang dengan hati masgul. Setiap malam ia hanya berteman dengan rembulan dan bintang-bintang. Hari-hari dilewati dengan kegundahan. Tak ada hari yang lebih berat dalam hidup Abu Nawas kecuali hari-hari ini.

Cerita 1001 Malam Abu Nawas

Tetapi pada hari kesembilan ia tidak lagi merasa gundah gulana. Keesokan harinya Abu Nawas menuju istana. la menghadap Baginda untuk membahas pemindahan istana. Dengan senang hati Baginda akan mendengarkan, apa yang diinginkan Abu Nawas.

“Ampun Tuariku, hamba datang ke sini hanya untuk mengajukan usul untuk memperlancar pekerjaan hamba nanti.” kata Abu Nawas.

“Apa usul itu?”

“Hamba akan memindahkan istana Paduka yang mulia tepat pada Hari Raya Idul Qurban yang kebetulan hanya kurang dua puluh hari lagi.”

“Kalau hanya usulmu, baiklah.” kata Baginda. “Satu lagi Baginda…..” Abu Nawas menambahkan.

“Apa lagi?” tanya Baginda.

“Hamba mohon Baginda menyembelih sepuluh ekor sapi yang gemuk untuk dibagikan langsung kepada para fakir miskin.” kata Abu Nawas.

“Usulmu kuterima.” kata Baginda menyetujui. Abu Nawas pulang dengan perasaan riang gembira.

Kini tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan. Toh nanti bila waktunya sudah tiba, ia pasti akan dengan mudah memindahkan istana Baginda Raja. Jangankan hanya memindahkan ke puncak gunung, ke dasar samudera pun Abu Nawas sanggup.

Desas-desus mulai tersebar ke seluruh pelosok negeri. Hampir semua orang harap-harap cemas.

Kisah Abu Nawas Lengkap

Tetapi sebagian besar rakyat merasa yakin atas kemampuan Abu Nawas. Karena selama ini Abu Nawas belum pemah gagal melaksanakan tugas-tugas aneh yang  dibebankan di atas pundaknya. Namun ada beberapa orang yang meragukan keberhasilan Abu Nawas kali ini.

Saat-saat yang dinanti-nantikan tiba. Rakyat berbondongbondong menuju lapangan untuk melakukan sholat Hari Raya Idul Qurban. dan seusai sholat, sepuluh sapi  sumbangan Baginda Raja disembelih lalu dimasak kemudian segera dibagikan kepada fakir miskin.

Kini giliran Abu Nawas yang harus melaksanakan tugas berat itu. Abu Nawas berjalan menuju istana diikuti oleh rakyat. Sesampai di depan istana Abu Nawas bertanya  kepada Baginda Raja, “Ampun Tuanku yang mulia, apakah istana sudah tidak ada orangnya lagi?”

“Tidak ada.” jawab Baginda Raja singkat. Kemudian Abu Nawas berjalan beberapa langkah mendekati istana. la berdiri sambil memandangi istana. Abu Nawas berdiri  mematung seolah-olah ada yang ditunggu. Benar. Baginda Raja akhirnya tidak sabar.

“Abu Nawas, mengapa engkau belum juga mengangkat istanaku?” tanya Baginda Raja.

“Hamba sudah siap sejak tadi Baginda.” kata Abu Nawas. “Apa maksudmu engkau sudah siap sejak tadi? Kalau engkau sudah siap. Lalu apa yang engkau tunggu?” tanya  Baginda masih diliputi perasaan heran.

“Hamba menunggu istana Paduka yang mulia diangkat oleh seluruh rakyat yang hadir untuk diletakkan di atas pundak hamba. Setelah itu hamba tentu akan  memindahkan istana Paduka yang mulia ke atas gunung sesuai dengan titah Paduka.”

Baginda Raja Harun AI Rasyid terpana. Beliau tidak menyangka Abu Nawas masih bisa keluar dari lubang jarum.

Abu Nawas: Memantati Baginda Raja Mendapat Seribu Koin Emas

Pada suatu sore ketika Abu Nawas ke warung teh kawan-kawannya sudah berada di situ. Mereka memang sengaja sedang menunggu Abu Nawas.

“Nah ini Abu Nawas datang.” kata salah seorang dari mereka.

“Ada apa?” kata Abu Nawas sambil memesan secangkir teh hangat.

“Kami tahu engkau selalu bisa melepaskan diri dari perangkap-perangkap yang dirancang Baginda Raja Harun Al Rasyid. Tetapi kami yakin kali ini engkau pasti dihukum Baginda Raja bila engkau berani melakukannya.” kawan-kawan Abu Nawas membuka percakapan.

“Apa yang harus kutakutkan. Tidak ada sesuatu apapun yang perlu ditakuti kecuali kepada Tuhan” kata Abu Nawas menentang.

“Selama ini belum pernah ada seorang pun di negeri ini yang berani memantati Baginda Raja Harun Al Rasyid. Bukankah begitu hai Abu Nawas?” tanya kawan Abu Nawas.

“Tentu saja tidak ada yang berani melakukan hal itu karena itu adalah pelecehan yang amat berat hukumannya pasti dipancung.” kata Abu Nawas memberitahu.

“Itulah yang ingin kami ketahui darimu. Beranikah engkau melakukannya?”

“Sudah kukatakan bahwa aku hanya takut kepada Tuhan saja. Sekarang apa taruhannya bila aku bersedia melakukannya?” Abu Nawas ganti bertanya.

“Seratus keping uang emas. Disamping itu Baginda harus tertawa tatkala engkau
pantati.” kata mereka. Abu Nawas pulang setelah menyanggupi tawaran yang amat berbahaya itu.

Abu Nawas: Memantati Baginda Raja Mendapat Seribu Koin Emas
Abu Nawas: Memantati Baginda Raja Mendapat Seribu Koin Emas
Kawan-kawan Abu Nawas tidak yakin Abu Nawas sanggup membuat Baginda Raja tertawa apalagi ketika dipantati. Kayaknya kali ini Abu Nawas harus berhadapan dengan algojo pemenggal kepala.

Minggu depan Baginda Raja Harun Al Rasyid akan mengadakan jamuan kenegaraan. Para menteri, pegawai istana dan orang-orang dekat Baginda diundang, termasuk Abu Nawas. Abu Nawas merasa hari-hari berlalu dengan cepat karena ia harus menciptakan jalan keluar yang paling aman bagi keselamatan lehernya dari pedang algojo. Tetapi bagi kawan-kawan Abu Nawas hari-hari terasa amat panjang. Karena mereka tak sabar menunggu pertaruhan yang amat mendebarkan itu.

Persiapan-persiapan di halaman istana sudah dimulai. Baginda Raja menginginkan perjamuan nanti meriah karena Baginda juga mengundang rajaraja dari negeri sahabat.

Ketika hari yang dijanjikan tiba, semua tamu sudah datang kecuali Abu Nawas. Kawan-kawan Abu Nawas yang menyaksikan dari jauh merasa kecewa karena Abu Nawas tidak hadir. Namun temyata mereka keliru. Abu Nawas bukannya tidak datang tetapi terlambat sehingga Abu Nawas duduk di tempat yang paling
belakang.

Ceramah-ceramah yang mengesankan mulai disampaikan oleh para ahli pidato. Dan tibalah giliran Baginda Raja Harun Al Rasyid menyampaikan pidatonya. Seusai menyampaikan pidato Baginda melihat Abu Nawas duduk sendirian di tempat yang tidak ada karpetnya. Karena merasa heran Baginda bertanya, “Mengapa engkau tidak duduk di atas karpet?”

“Paduka yang mulia, hamba haturkan terima kaslh atas perhatian Baginda. Hamba sudah merasa cukup bahagia duduk di sini.” kata Abu Nawas.

“Wahai Abu Nawas, majulah dan duduklah di atas karpet nanti pakaianmu kotor karena duduk di atas tanah.” Baginda Raja menyarankan.

“Ampun Tuanku yang mulia, sebenarnya hamba ini sudah duduk di atas karpet.”

Baginda bingung mendengar pengakuan Abu Nawas. Karena Baginda melihat sendiri Abu Nawas duduk di atas lantai. “Karpet yang mana yang engkau maksudkan wahai Abu Nawas?” tanya Baginda masih bingung.

“Karpet hamba sendiri Tuanku yang mulia. Sekarang hamba selalu membawa karpet ke manapun hamba pergi.” Kata Abu Nawas seolah-olah menyimpan misteri.

“Tetapi sejak tadi aku belum melihat karpet yang engkau bawa.” kata Baginda Raja bertambah bingung.

“Baiklah Baginda yang mulia, kalau memang ingin tahu maka dengan senang hati hamba akan menunjukkan kepada Paduka yang mulia.” kata Abu Nawas sambil beringsut-ringsut ke depan. Setelah cukup dekat dengan Baginda, Abu Nawas berdiri kemudian menungging menunjukkan potongan karpet yang ditempelkan di bagian pantatnya. Abu Nawas kini seolah-olah memantati Baginda Raja Harun Al Rasyid. Melihat ada sepotong karpet menempel di pantat Abu Nawas, Baginda Raja tak bisa membendung tawa sehingga beliau terpingkal-pingkal diikuti oleh para undangan.

Menyaksikan kejadian yang menggelikan itu kawan-kawan Abu Nawas merasa kagum.

Mereka harus rela melepas seratus keping uang emas untuk Abu Nawas.

Abunawas: Lembu Yang Bisa Berbicara

Pada suatu hari Sultan Harunnurasyid menyuruh panggil Abu Nawas pula datang menghadap baginda. Sebab pikir baginda, Abu Nawas sangat cerdik, jadi hendak diujinya. Maka Abu Nawas pun datanglah, lalu menyembah. Titah Sultan Harunnurasyid kepadanya, “Hai, Abu Nawas, aku menginginkan enam ekor lembu yang pandai berkata-kata dan yang berjanggut. Dalam tujuh hari ini hendaklah sudah ada keenam binatang itu disini! Jika tiada dapat olehmu, niscaya engkau kusuruh bunuh”.

Sembah Abu Nawas, “Baiklah, Tuanku Syah Alam, patik junjung titah Tuanku itu”.

Maka segala orang yang duduk pada majelis raja itu pun berkata sama sendirinya, “ Sekali ini matilah Abu Nawas dibunuh oleh Sultan Harunnurasyid”.

Abunawas: Lembu Yang Bisa Berbicara
Abunawas: Lembu Yang Bisa Berbicara
Setelah itu maka Abu Nawas pun lalulah bermohon ke luar, pulang ke rumahnya. Serta sampai, lalu ia duduk berdiam diri memikirkan kehendak amirulmukminin yang demikian itu. Sehari pun tiada ia keluar dari dalam rumahnya. Sekalian orang yang melihat hal Abu Nawas itu, heranlah.

Setelah sampai akan hari yang dijanjikan oleh Sultan Harunnurasyid itu, barulah Abu Nawas keluar dari dalam rumahnya, lalu ia berjalan menuju ke pangkalan orang nelayan. Di tengah jalan ia bertemu dengan orang-orang yang berjalan ke pangkalan itu jua, lalu dipanggilnya, “Hai orang muda! Hari ini apa harinya”?

Yang mana mengatakan yang betul hari itu, dilepaskan oleh Abu Nawas dan yang salah jawabnya, ditahannya orang itu. Maka berlain-lainlah jawab mereka itu, seorang mengatakan hari ini, seorang mengatakan hari itu, seorangpun tak ada yang betul jawabnya.

Kata Abu Nawas kepada orang itu, “Kata engkau, hari ini dan hari anu; disini tak ada ini, tak ada itu, tak ada anu, melainkan esok hari barulah yang betul; kita pergi menghadap Sultan Harunnurasyid, disanalah baru dapat yang betul itu”.

Keesokan harinya, pada majelis raja Harunnurasyid telah banyak orang berhimpunm hendak melihat hal Abu Nawas juga, apakah jawabnya kepada baginda. Kemudian datanglah Abu Nawas serta membawa enam orang yang berjanggut. Telah sampailah Abu Nawas ke hadapan baginda, lalu ia berdatang sembah serta duduk pada majelis itu.

Maka raja Harunnurasyid pun bertitah kepadanya, “Hai Abu Nawas, mana lembu yang pandai berkata-kata dan yang berjanggut itu”?

Sembah Abu Nawas sambil menunjuk kepada orang yang berenam itu, “Inilah ya Tuanku Syah Alam”.

Sabda amirulmukminin, “Hai Abu Nawas, apa yang engkau tunjukkan kepadaku ini”?

Sembah Abu Nawas, “Ya Tuanku Syah Alam, tanyakanlah kepada mereka itu hari apakah sekarang ini”.

Maka ditanyailah oleh Sultan Harunn arrasyid orang-orang itu. Berlain-lainlah nama hari yang mereka sebut itu.

Kata Abu Nawas pula, “Jikalau mereka manusia, tahulah mereka akan nama hari itu. Apabila, jika Tuanku tanyakan hari yang lain-lain, tentu bertambah-tambah tiada diketahuinya. Manusiakah atau binatangkah yang demikian itu? Inilah lembu yang pandai berkata-kata, serta berjanggut, ya Tuanku.

Maka Sultan Harunnurasyid heran melihat hal Abu Nawas pandai sekali melepaskan dirinya itu. Setelah itu amirulmukminin pun menyuruh memberi persalin dan uang lima ribu dinar kepada Abu Nawas.

Sekalian orang heranlah. Setelah sudah, bermohonlah segala mereka itu pulang ke rumahnya masing-masing dengan suka cita. Abu Nawas pun pulang juga.

Hikayat Seorang Kakek dan Seekor Ular

Pada zaman dahulu, tersebutlah ada seorang kakek yang cukup disegani. Ia dikenal takut kepada Allah, gandrung pada kebenaran, beribadah wajib setiap waktu, menjaga salat lima waktu dan selalu mengusahakan membaca Al-Qur’an pagi dan petang. Selain dikenal alim dan taat, ia juga terkenal berotot kuat dan berotak encer. Ia punya banyak hal yang menyebabkannya tetap mampu menjaga potensi itu.

Suatu hari, ia sedang duduk di tempat kerjanya sembari menghisap rokok dengan nikmatnya (sesuai kebiasaan masa itu). Tangan kanannya memegang tasbih yang senantiasa berputar setiap waktu di tangannya. Tiba-tiba seekor ular besar menghampirinya dengan tergopoh-gopoh. Rupanya, ular itu sedang mencoba menghindar dari kejaran seorang laki-laki yang (kemudian datang menyusulnya) membawa tongkat.

Hikayat Seorang Kakek dan Seekor Ular
Hikayat Seorang Kakek dan Seekor Ular

“Kek,” panggil ular itu benar-benar memelas, “kakek kan terkenal suka menolong. Tolonglah saya, selamatkanlah saya agar tidak dibunuh oleh laki-laki yang sedang mengejar saya itu. Ia pasti membunuh saya begitu berhasil menangkap saya. Tentunya, kamu baik sekali jika mau membuka mulut lebar-lebar supaya saya dapat bersembunyi di dalamnya. Demi Allah dan demi ayah kakek, saya mohon, kabulkanlah permintaan saya ini.”

“Ulangi sumpahmu sekali lagi,” pinta si kakek. “Takutnya, setelah mulutku kubuka, kamu masuk ke dalamnya dan selamat, budi baikku kamu balas dengan keculasan. Setelah selamat, jangan-jangan kamu malah mencelakai saya.”

Ular mengucapkan sumpah atas nama Allah bahwa ia takkan melakukan itu sekali lagi. Usai ular mengucapkan sumpahnya, kakek pun membuka mulutnya sekira-kira dapat untuk ular itu masuk.

Sejurus kemudian, datanglah seorang pria dengan tongkat di tangan. Ia menanyakan keberadaan ular yang hendak dibunuhnya itu. Kakek mengaku bahwa ia tak melihat ular yang ditanyakannya dan tak tahu di mana ular itu berada. Tak berhasil menemukan apa yang dicarinya, pria itu pun pergi.

Setelah pria itu berada agak jauh, kakek lalu berbicara kepada ular: “Kini, kamu aman. Keluarlah dari mulutku, agar aku dapat pergi sekarang.”

Ular itu hanya menyembulkan kepalanya sedikit, lalu berujar: “Hmm, kamu mengira sudah mengenal lingkunganmu dengan baik, bisa membedakan mana orang jahat dan mana orang baik, mana yang berbahaya bagimu dan mana yang berguna. Padahal, kamu tak tahu apa-apa. Kamu bahkan tak bisa membedakan antara makhluk hidup dan benda mati.”

“Buktinya kamu biarkan saja musuhmu masuk ke mulutmu, padahal semua orang tahu bahwa ia ingin membunuhmu setiap ada kesempatan. Sekarang kuberi kamu dua pilihan, terserah kamu memilih yang mana; mau kumakan hatimu atau kumakan jantungmu? Kedua-duanya sama-sama membuatmu sekarat.” Kontan ular itu mengancam.

“La haula wa la quwwata illa billahi al`aliyyi al-`azhim [tiada daya dan kekuatan kecuali bersama Allah yang Maha Tinggi dan Agung] (ungkapan geram), bukankah aku telah menyelamatkanmu, tetapi sekarang aku pula yang hendak kamu bunuh? Terserah kepada Allah Yang Esa sajalah. Dia cukup bagiku, sebagai penolong terbaik.” Sejurus kemudian kakek itu tampak terpaku, shok dengan kejadian yang tak pernah ia duga sebelumnya, perbuatan baiknya berbuah penyesalan.

Kakek itu akhirnya kembali bersuara, “Sebejat apapun kamu, tentu kamu belum lupa pada sambutanku yang bersahabat. Sebelum kamu benar-benar membunuhku, izinkan aku pergi ke suatu tempat yang lapang. Di sana ada sebatang pohon tempatku biasa berteduh. Aku ingin mati di sana supaya jauh dari keluargaku.”

Ular mengabulkan permintaannya. Namun, di dalam hatinya, orang tua itu berharap, “Oh, andai Tuhan mengirim orang pandai yang dapat mengeluarkan ular jahat ini dan menyelamatkanku.”

Setelah sampai dan bernaung di bawah pohon yang dituju, ia berujar pada sang ular: “Sekarang, silakan lakukanlah keinginanmu. Laksanakanlah rencanamu. Bunuhlah aku seperti yang kamu inginkan.”

Tiba-tiba ia mendengar sebuah suara yang mengalun merdu tertuju padanya:
“Wahai Kakek yang baik budi, penyantun dan pemurah. Wahai orang yang baik rekam jejaknya, ketulusan dan niat hatimu yang suci telah menyebabkan musuhmu dapat masuk ke dalam tubuhmu, sedangkan kamu tak punya cara untuk mengeluarkannya kembali. Cobalah engkau pandang pohon ini. Ambil daunnnya beberapa lembar lalu makan. Moga Allah sentiasa membantumu.”

Anjuran itu kemudian ia amalkan dengan baik sehingga ketika keluar dari mulutnya ular itu telah menjadi bangkai. Maka bebas dan selamatlah kakek itu dari bahaya musuh yang mengancam hidupnya. Kakek itu girang bukan main sehingga berujar, “Suara siapakah yang tadi saya dengar sehingga saya dapat selamat?”

Suara itu menyahut bahwa dia adalah seorang penolong bagi setiap pelaku kebajikan dan berhati mulia. Suara itu berujar, “Saya tahu kamu dizalimi, maka atas izin Zat Yang Maha Hidup dan Maha Berdiri Sendiri (Allah) saya datang menyelamatkanmu.”

Kakek bersujud seketika, tanda syukurnya kepada Tuhan yang telah memberi pertolongan dengan mengirimkan seorang juru penyelamat untuknya.”

Di akhir ceritanya, si Saudi berpesan:
“Waspadalah terhadap setiap fitnah dan dengki karena sekecil apapun musuhmu, ia pasti dapat mengganggumu. Orang jahat tidak akan pernah menang karena prilakunya yang jahat.”

Kemudian si Saudi memelukku dan memeluk anakku. Pada istriku dia mengucapkan selamat tinggal. Ia berangkat meninggalkan kami. Hanya Allah yang tahu betapa sedihnya kami karena berpisah dengannya. Kami menyadari sepenuhnya perannya dalam menyelamatkan kami dari lumpur kemiskinan sehingga menjadi kaya-raya.

Namun, belum beberapa hari dia pergi, aku sudah mulai berubah. Satu persatu nasehatnya kuabaikan. Hikmah-hikmah Sulaiman dan pesan-pesannya mulai kulupakan. Aku mulai menenggelamkan diri dalam lautan maksiat, bersenang-senang dan mabuk-mabukan. Aku menjadi suka menghambur-hamburkan uang.

Akibatnya, para tetangga menjadi cemburu. Mereka iri melihat hartaku yang begitu banyak. Mengingat mereka tidak tahu sumber pendapatanku, mereka lalu mengadukanku kepada kepala kampung. Kepala kampung memanggilku dan menanyakan dari mana asal kekayaanku. Dia juga memintaku untuk membayarkan uang dalam jumlah yang cukup besar sebagai pajak, tetapi aku menolak. Ia memaksaku untuk mematuhi perintahnya seraya menebar ancaman.

Setelah membayar begitu banyak sehingga yang tersisa dari hartaku tak seberapa, suatu kali bayaranku berkurang dari biasanya. Dia pun marah dan menyuruh orang untuk mencambukku. Kemudian ia menjebloskan aku ke penjara. Sudah tiga tahun lamanya saya mendekam di penjara ini, merasakan berbagai aneka penyiksaan. Tak sedetikpun saya lewatkan kecuali saya meminta kepada Zat yang menghamparkan bumi ini dan menjadikan langit begitu tinggi agar segera melepaskan saya dari penjara yang gelap ini dan memulangkan saya pada isteri dan anak-anak saya.

Namun, tentu saja, saya takkan dapat keluar tanpa budi baik dari Baginda Rasyid, Baginda yang agung dan menghukum dengan penuh pertimbangan.

Khalifah menjadi terkejut dan sedih mendengar ceritanya. Khalifah pun memerintahkan agar ia dibebaskan dan dibekali sedikit uang pengganti dari kerugian yang telah ia derita dan kehinaan yang dialaminya. Ia pun memanjatkan doa dengan khusyu kepada Allah, satu-satunya Dzat yang disembah, agar Khalifah Amirul Mukminin senantiasa bermarwah dan berbahagia, selama matahari masih terbit dan selama burung masih berkicau.

Para napi di penjara Baghdad semakin banyak mendoakan agar Khalifah berumur panjang setelah Khalifah meninggalkan harta yang cukup banyak buat mereka.

Khalifah lalu kembali ke istananya yang terletak di pinggir sungai Tigris. Di istana telah menunggu siti Zubaidah. Khalifah lalu menceritakan apa yang sudah dilakukannya, Zubaidah pun senang mendengarnya. Ia mengucapkan terima kasih dan memuji Khalifah karena telah berbuat baik. Zubaidah juga mendoakan agar Khalifah panjang umur.

Friday, July 24, 2015

Cerita Islami: Khusyuk dalam Shalat

Cerita zaman dahulu ini terjadi pada zaman Rasulullah SAW, yaitu mengenai khusyuk dalam shalat.

Suatu hari, Rasulullah sedang bersama para sahabat, termasuk di dalamnya sahabat Ali bin Abi Thalib. Lalu, ada seorang sahabat yang mengadu kepada Rasulullah SAW bahwa ia tidak bisa menjalankan shalat dengan khusyuk sempurna. Ketika shalat, ia selalu teringat dengan hal-hal duniawi, seperti urusan rumah tangga, hutang, ataupun yang lainnya.

Kemudian, Rasul pun menjawab, "Tidak ada orang yang dapat sempurna dan khusyuk sepenuhnya dalam mengerjakan shalat dari awal hingga akhir".

Saat itu Ali bin Abi Thalib menyela, "Saya bisa, Ya Rasulullah".

"Benarkah kau sanggup?" tanya Rasulullah.

"Benar, Ya Rasulullah," jawab Ali bin Abi Thalib dengan mantap.

Cerita Islami: Khusyuk dalam Shalat
Cerita Islami: Khusyuk dalam Shalat


Kemudian Rasulullah berkata, "Kalau engkau memang dapat menjalankan shalat dengan khusyuk sempurna dari awal hingga akhir, maka kau akan kuberikan surbanku yang terbaik sebagai hadiah".

Ali bin Abi Thalib pun mengerjakan shalat sunnah dua rakaat dengan penuh kekhusyukan. Lalu, setelah selesai shalat sunnah tersebut, Rasulullah bertanya kepada Ali bin Abi Thalib, "Apakah kau dapat shalat dengan khusyuk sempurna dari awal hingga akhir?"

Ali pun menjawabnya dengan wajah murung, "Pada rakaat pertama saya dapat shalat dengan khusyuk, dan pada rakaat kedua pun saya tetap khusyuk hingga duduk tasyahud akhir".

Kemudian Ali melanjutkan, "Namun, ketika mendekati salam, saya teringat akan janji engkau, Ya Rasulullah, bahwa aku akan engkau berikan surbanmu yang terbaik. Oleh karena itu, kekhusyukan saya rusak".

Rasul menjawab, "Hal itu pun terjadi dengan yang lain. Khusyuk diukur oleh Allah sebatas kemampuan manusia. Jika kau sedang shalat lalu teringat dengan urusan yang lain, maka cepatlah kau kembali kepada shalatmu lagi. Saat menjalankan shalat, hendaknya kita seakan-akan mampu untuk melihat dan berbicara pada Allah, dan ingatlah bahwa Allah selalu melihat kita".

Begitulah sepenggal cerita pada zaman Rasulullah SAW, mengenai apa yang disebut khusyuk dalam shalat. Seringkali kita merasakan hal yang sama, yaitu tidak dapat mengerjakan shalat dengan khusyuk sepenuhnya dari awal hingga akhir. Terkadang kita teringat akan hal-hal lain diluar shalat kita, sehingga kekhusyukan dalam shalat berkurang, atau malah tidak dapat khusyuk sama sekali. Hal tersebut harus disikapi dengan segera mengembalikan pikiran kita kepada shalat, dan selalu mengingat Allah, seakan-akan mampu untuk melihat dan berbicara pada Allah. Shalat adalah media kita untuk berkomunikasi dengan Allah. Apabila kita dapat menjaga kekhusyukan dalam shalat, maka kita akan dapat menikmati indahnya berkomunikasi dengan Allah melalui shalat.

Sekian cerita islami kali ini, semoga bermanfaat untuk kita semua.

Wednesday, July 22, 2015

Cerita Islami : Jangan Prasangka Buruk

Cerita Islami kali ini akan menceritakan tentang seorang bernama Abu Said Al-Kharraj, ini terjadi saat Abu Said berprasangka buruk terhadap seorang fakir miskin. Hal itu sangat memalukan dihadapan allah, dan allah akan menerima tauat hambanya.

Kisah Bermula: Prasangka Buruk

Cerita ini bermula saat Abu Said Al-Kharraj berada sedang di Masjidil Haram, Kota Makkah. Kemudian setelah Abu Said melaksanakan sholat sunnah, terlihat seorang fakir miskin dengan pakaian sangat lusuh memasuki masjid. Fakir miskin tersebut membawa selembar kain yang dikira Abu Said akan digunakan si fakir miskin tersebut untuk dijadikan sajadah sholat, ternyata si fakir tersebut menggelar kain lusuh tersebut dan kemudian menengadahkan tangannya. Si fakir miskin tersebut rupanya meminta-minta pada jamaah masjid yang berlalu-lalang. Bukannya melaksanakan sholat atau ibadah lainnya, melainkan mengemis atau minta sedekah pada orang yang sedang lewat.

Fikiran Buruk Abu Said

Melihat hal ini, abu said berkata dalam hati "Sungguh keterlaluan orang fakir miskin itu, bukannya melakukan ibadah tapi malah minta-minta. Lihat saja, menyusahkan orang yang akan berjalan". Kata abu said dalam hatinya berburuk sangka pada fakir miskin. Tidak diduga ternyata si fakir miskin tersebut berdiri dan menghampiri Abu Said, kemudian membaca ayat al-quran. "Dan ketahuilah, bahwa Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu. Surah Al-Baqarah ayat 235" Mendengar ayat yang dibacakan oleh si fakir miskin itu, Abu Said kaget dan sangat malu. Abu said mengucapkan istighfar didalam hati, seraya meminta kepada Allah terhadap apa yang sudah dia lakukan. Lagi-lagi si fakir miskin itu membaca sebuah ayat al-quran. "Dan Dialah yang menerima taubat hamba-hambanya, serta memaafkan kesalahan mereka. Surah As-Syuara ayat 25".

Dilarang Berprasangka Buruk

Rupanya yang di anggap oleh Abu Said Al-Kharraj sebagai fakir miskin, dia adalah seorang waliyullah yang sedang berpenampilan (menyamar) sebagai pengemis. Sejak itulah abu said al-kharraj merasa jera tidak mau berprasangka buruk terhadap siapapun. Entah itu pada orang yang berpenampilan bagus, atau pada orang yang berpenampilan buruk. Dalam hal ini Abu Said tidak mengetahui kalau yang terlihat seperti pengemis itu adalah seorang ulama dengan maqam yang tinggi, oleh karena itu jangan sekali-kali kita berfikir buruk pada siapapun. Sekian cerita dongeng islami kali ini, semoga membawa manfaat dan menjadi pelajaran untuk kita semua.

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Cerita Zaman Dahulu sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Cerita Zaman Dahulu. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Cerita Zaman Dahulu dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock